marque

welcome to my blog, MY NAME IS YULI RAHMAWATI, THANK YOU FOR WELCOME. SEE YOU

Sabtu, 28 September 2013

krisis bahan pangan..

kawan tahu kah kamu tentang krisis bahan pangan yang melanda dunia saat ini? wah kita harus mencegah itu terjadi tapi sebelum itu aku akan kasih tau penyebab nya dulu..


Ancaman Krisis Pangan

OPINI | 25 September 2013 | 09:50 Dibaca: 98   Komentar: 0   1
Pentingnya Pangan
Jika ada uang tapi tidak ada barang yang dibeli apa akibatnya? tentu uang tersebut tidak bernilai atau lebih dari itu jika yang mau di beli/butuhkan adalah terkait makanan, maka terjadi kelaparan, dan jika sudah lapar, maka akan berdampak pada stabilitas fisik secara keseluruhan, sehingga membuat produktivitas kerja rendah dan aktivitas ekonomi terganggu. Sebutlah makanan yang dimaksud adalah pangan. Pangan bukan hanya isu ekonomi, namun pangan sangat bermakna politik. Terganggunya ketahan pangan akan merambah ke situasi ekonomi dan politik, oleh sebab itu upaya menciptakan ketahan pangan harus menjadi pekerjaan serius dengan dukungan kebijakan pendukungnya.Akibat terbesar jika ketahan pangan tidak kuat (ketersediaan pangan), maka devisa kita harus keluar untuk mengimpor pangan. Bicara pangan adalah bicara masa depan dan hidup.Terabaikannya pangan akan menganggu stabilitas politik.
Krisis pangan yang melanda dunia tahun ini benar-benar membuat negaranegara didunia harus berfikir keras mencari jalan keluar. Kerja keras negara-negara dunia ini dipicu dengan kenaikan harga pangan dan kekhawatiran akan bencanakelaparan yang mengiringinya terkait dengan menurunnya daya beli akan bahanpangan yang cenderung terus meningkat dan melangka.
Krisis pangan ini sebenarnya telah terjadi sejak tahun 2005 namun barubooming pada tahun 2008 ini. Secara mendasar, krisis ini dipicu oleh semakinmeningkatnya jumlah penduduk dunia yang tidak didukung oleh peningkatan produksi pertanian. Selain faktor dasar tersebut, kelangkaan pangan juga diakibatkanoleh baralihnya lahan pertanian menjadi lahan industri, atau berubahnya arealpersawahan padi dan gandum menjadi lahan jagung, kedelai dan berbagai macamtanaman biji-bijian yang ditingkatkan produksinya untuk memenuhi konversi kelangkaan bahan bakar fosil menjadi bahan bakar nabati.
Krisis Pangan Dunia
Krisis pangan dunia dimulai sejak tahun 2005 ketika negara-negara dunia mulai mengkhawatirkan kelangkaan bahan pangan yang kemudian hampir dipastikan akan menimbulkan kenaikan harga pangan. Laporan FAO menyebutkan bahwadiperkirakan sekitar 36 negara mengalami peningkatan harga pangan yang cukup tajam yang berkisar dari 75% sampai 200%. Dalam tiga tahun terakhir secara umum,
harga pangan dunia telah meningkat dua kali lipat dan disusul dengan peningkatanjumlah penduduk miskin yang tidak mampu mengakses bahan pangan.1 Kekhawatiran finalnya adalah adanya gejolak sosial dan politik bagi negara-negara yang mengalamikrisis pangan tersebut seperti yang terjadi di Somalia pada awal Mei 2008.
Kelangkaan produksi pangan sebenarnya telah dimulai jauh hari sejak duniamengenal industrialisasi modern. Berdasarkan catatan FAO, produksi bahan panganmeningkat sekitar 39% di negara-negara berkembang pada tahun 1980an yangdidominasi oleh negara-negara di Asia Timur. Sementara itu di Afrika pada dekadeyang sama mengalami peningkatan produksi sebesar 33%.
Namun ternyatapeningkatan produksi pertanian ini tidak bertahan lama karena dalam dekadeselanjutnya justru produksi bahan pangan mengalami penurunan Laporan dari The International Food Policy Research Institute menunjukkanbahwa produksi dan konsumsi pangan regional dan internasional selama dua puluhtahun terakhir dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu pertumbuhan ekonomi dankebijakan ekonomi, pertumbuhan populasi dan urbanisasi, infrastruktur di pedesaan,teknologi produksi pertanian dan akses untuk mendapatkan teknologi tersebut sertamanajemen penggunaan sumber daya alam dan pertimbangan ekologi lingkungan.
Berdasarkan beberapa fenomena yang ada, secara umum terdapat tiga elemenutama yang berkaitan dengan krisis pangan dunia, yaitu peningkatan populasi yangtidak diimbangi dengan peningkatan produksi pertanian, kemiskinan dan kelaparandan kebijakan ekonomi.
Waspadai Defisit Produksi Pangan dan Gangguan Perdagangan
Mengantisipasi atas krisis pangan dunia ke depan pemerintah Indonesia juga harus mempertimbangkan dampak defisit produksi pangan global yang berpotensi menganggu perdagangan dan memicu gejolak harga.Atas dasar situasi dan pertimbangan di atas, maka peningkatan produksi pangan menjadi jalan keluar mutlak yang tidak bisa di tawar.
Pergerakan harga global berdampak terhadap pengeluaran konsumsi dan biaya hidup masyarakat, terutama terhadap Negara berkembang yang cenderung pangsa pengeluaran panganya sangat besar. Kondisi ini harus diantisipasi, misalkan kasus yang terjadi pada gejolak harga pangan kedelai yang sangat menganggu stabilitas, terutama produsen tempe tahu. Lonjakan harga daging juga menekan inflasi, demikian halnya dengan harga bawang dan cabai.
Menurut laporan dari OECD-FAO, menunjukkan, bahwa pada tahun 2013-2022 akan terjadi defisit produksi pangan. Produk pangan global pada periode tersebut hanya naik 1,5 % atau lebih rendah daripada rata rata bpertumbuhan tahun 2003-2012.
Prediksi OECD-FAO tersebut sangat relevan dan realistis mengingat penyebab pertumbuhan produksi pertaniandunia melambat adalah?(1) kelangkaan dan keterbatasan sumberdaya, (2) keterbatasan lahan pertanian, dan (3) naiknya biaya produksi disisi lain juga dipengaruhi oleh dukungan kebijakan pertanian baik menyangkut aspek anggaran atau penguatan kelembagaan pertanian.Kemudian dilain pihak, dari sisi permintaan, konsumsi produk pertanian-pangan di Negara Negara berkembang terus meningkat sepanjang tahun.Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, misalnya (1) peningkatan populasi dan pendapatan, (2) urbanisasi dan (3) perubahan pola makan. Dalam situasi tersebut, jika stok pangan tipis, pada akhirnya akan mengancam ketahanan pangan nasional.
Berdasarkan laporan pada Agricultural Out-look 2013-2022 OECD-FAO dengan pembahasan yang komprehensif untuk menempatakan delapan komoditas pertanian dunia yang meiputi sereal, oil-seds, gula, daging, ikan, susu, kapas dan bahan bakar hayati. Kemudian beberapa faktor eksternal yang bisa mempengaruhi permintaan dan penawaran komoditas pangan dunia adalah (1) pertumbuhan penduduk ,(2) perubahan demografi populasi, (3) kejuatan makro ekonomi, dan (4) kecepatan pemulihan kesinambungan pertumbuhan ekonomi.
Strategi Dunia Atasi Kelaparan dan Krisi Pangan
Dunia perlu berkoordinasi guna menemukan solusi atas perubahan iklim dan krisis pangan. Hal ini terungkap dalam berita yang dirilis Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO.Adalah José Graziano da Silva, Direktur Jenderal FAO, Kanayo F. Nwanze, Presiden International Fund for Agricultural Development dan Ertharin Cousin, Direktur Eksekutif Program Pangan Dunia yang bersama-sama menulis artikel berjudul “Tackling The Root Causes Of High Food Prices and Hunger” guna merespon situasi krisis ini.
Mereka menyatakan, krisis pangan akan berdampak pada puluhan juta penduduk dalam beberapa bulan ke depan, jika dunia tidak berkoordinasi mengatasinya.
Menurut pengamatan mereka, ada dua masalah utama yang perlu diatasi. Yang pertama adalah masalah jangka pendek yaitu melonjaknya harga pangan (jagung, gandum dan kedelai) di pasar dunia. Masalah ini berdampak pada penduduk miskin dan semua negara yang mengandalkan pada impor pangan. Yang kedua adalah masalah jangka panjang yaitu cara dunia memroduksi, memerdagangkan dan mengomsumsi pangan di tengah terus meningkatnya permintaan, populasi dan perubahan iklim.
Kabar baiknya, menurut ketiga penulis, dunia saat ini lebih siap menghadapi krisis pangan dibanding lima tahun yang lalu. PBB telah membentuk Unit Kerja Tingkat Tinggi untuk Keamanan Pangan Dunia (United Nations High-Level Task Force on Global Food Security) sementara organisasi negara-negara maju, G20, membentuk Agricultural Markets Information System (AMIS) guna meningkatkan transparansi di pasar global. Mereka juga memiliki Forum Tanggap Darurat terkait AMIS, guna mengatasi kekacauan pasar dengan melibatkan produsen dan pedagang pangan besar.
Kenaikan harga pangan, di satu sisi bisa menciptakan bencana bagi penduduk miskin, namun di sisi lain merupakan sumber pendapatan bagi petani kecil. Untuk itu, menurut ketiga penulis, dunia harus mampu menerapkan pendekatan ganda yaitu membantu para petani kecil berinvestasi dalam jangka panjang dan memastikan tersedianya jaring pengaman (safety net) bagi konsumen dan produsen pangan kecil yang terancam kehilangan aset mereka (seperti lahan pertanian) karena jebakan kemiskinan.
Banyak negara yang telah memiliki sistem jaring pengaman sosial ini yang bisa membantu petani kecil dan memberikan bantuan nutrisi bagi para ibu dan anak-anak guna memastikan mereka tidak kelaparan. Ketiga ahli ini juga meminta negara untuk tidak panik membeli pangan secara berlebihan (panic buying) serta tidak menciptakan kebijakan yang membatasi ekspor yang akan semakin memersulit krisis pangan.
Kenaikan harga pangan telah terjadi tiga kali dalam lima tahun terakhir. Penyebabnya tidak lain adalah fenomena iklim yaitu kekeringan di satu wilayah dan banjir di wilayah lain yang merusakkan produksi pertanian. Ancaman ini akan terus berlanjut sampai dunia bisa menemukan solusi menghadapi perubahan iklim.
Dalam jangka pendek, kerugian ini tidak hanya diderita oleh mereka yang langsung terkena dampaknya, namun juga diderita oleh komunitas internasional. Menurut perkiraan Program Pangan Dunia (WFP), jika harga pangan naik 10%, dunia internasional harus mencari tambahan dana sebesar US$200 juta per tahun guna menyediakan bantuan pangan.
Melihat situasi di atas, maka upaya upya untuk menyediakan pangan dan mengantisipasi krisis pangan dunia pemerintah harus memberikan pertimbangan dan perhatian khusus terhadap sektor pertanian. Jika langkah langkah antisipasif tidak di tempuh sejak sekarang, maka sangat dimungkinkan kita akan larut dalam krisis pangan dan menambah jumlah daftar kemiskinan yang akan menganggu pertumbuhan ekonomi nasional.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar