marque

welcome to my blog, MY NAME IS YULI RAHMAWATI, THANK YOU FOR WELCOME. SEE YOU

Minggu, 23 Oktober 2011

fakta hilangnnya pesawat adam air

sungguh fenomena yang sanggat mencengangkan masyarakat indonesia betapa tidak 96orang dapat hilang begitu saja ..simaklah fakta tentang hilangnnya pesawat itu....

adamair.jpg
Jakarta, Misteri menghilangnya pesawat AdamAir KI 574 perlahan mulai tersingkap. Perlahan pula pencarian hari ke-8 memperlihatkan titik terang.


Pada Senin 8 Januari, KRI Fatahillah yang dilengkapi sonar mendeteksi benda logam di perairan Mamuju, Sulbar, di kedalaman 1.500 meter. Sayangnya, kapal tidak bisa memastikan benda apa itu.

“Itu temuan awal KRI Fatahillah,” kata Danlantamal VI Laksamana Pertama Gatot Sudijanto saat dikontak wartawan di Makassar. Karena itu Gatot berharap kapal milik AS yang segera tiba di Makassar, USNS Mary Sears T-AGS 65 dan bisa memastikan detail benda tersebut.
Titik terang lain diungkap seorang nelayan Baharuddin yang pada pukul 14.00 Wita, Senin (1/1/2007) sedang berada di tengah laut. Saat itu, saksi mata ini berada di koordinat 02.32.02 LS – 118.54.45 BT, atau di tengah-tengah antara Kaluku dan Mamuju. Saksi melihat pesawat itu berwarna putih kebiru-biruan, seperti biru laut.
Tepat di atas posisi saksi mata, pesawat itu berbelok ke kiri menuju arah Mamuju. Sekitar 3nm (nautical miles) – atau sekitar 5,4 km – sebelum Pulau Mamuju, pesawat berbelok lagi ke arah barat dengan ketinggian yang terus menurun.
Setelah itu, saksi mengaku tidak melihat pesawat itu lagi. Sebab, cuaca saat itu sangat buruk dan berkabut. Angin kencang berhembus dari arah barat laut. 2-3 Menit kemudian, saksi mendengar gemuruh yang keras disusul bunyi ledakan.
Dan Lantamal VI/Makassar Marsekal Pertama Gatot Sudijanto memastikan keterangan saksi mata dengan pendeteksian logam oleh KRI Fatahillah saling mendukung. “Logam itu memang ditemukan di sekitar lokasi yang sebelumnya disampaikan saksi,” kata Gatot saat dihubungi detikcom.
Menurut Gatot, sebenarnya banyak nelayan yang memberikan kesaksian kepada Lantamal. Tapi, kesaksian-kesaksian itu tidak langsung dipercaya.
“Kita harus cek dulu. Dan keterangan nelayan Baharuddin itu termasuk yang kita tindak lanjuti,” tandas Gatot
Fakta baru penyebab hilangnya pesawat Adam Air dalam penerbangan dari Surabaya menuju Manado, pada Senin (1/1), sedikit demi sedikit mulai terkuak. Pilot pesawat Boeing 737-400 dengan nomor registrasi PK-KKW dan nomor penerbangan KI 574 itu, kehilangan posisi di atas wilayah udara Makassar. Sebelum hilang kontak dengan menara kontrol di Bandara Hasanuddin, Makassar, pesawat Boeing, sempat dihantam cross wind (angin yang tiba-tiba muncul dari arah samping pesawat), yang mengakibatkan pilot kehilangan posisi pesawat.
“Ketika itu pilot meminta posisi kepada petugas ATC dan sudah diinformasikan (kepada pilot),” ujar Presiden Asosiasi Pemandu Lalu Lintas Udara Indonesia (Indonesia Air Traffic Controller Association/IATCA), Adri Gunawan, kepada Pembaruan di Jakarta, Jumat (5/1).
Adri mengatakan, posisi pesawat yang disebutkan petugas pengatur lalu lintas udara di bandara (Air Traffic Control/ATC) adalah pada radial 309 jarak 120 nautical mile dari MKS VOR (alat navigasi, Red.). Dia sulit memastikan posisi itu di atas wilayah mana. Sedangkan Sekjen IATCA, Kristanto, yang dihubungi terpisah menyatakan, posisi itu masih di sekitar wilayah udara Makassar.
“Informasi yang kami terima dari rekan-rekan ATC Ujung Pandang (Makassar, Red.), sebelum hilang kontak, pesawat memang terakhir kali berada di ketinggian 35.000 kaki, bukan di 8.000 kaki seperti yang disebutkan banyak pihak. Dan memang ada cross wind,” ujar Kristanto di Jakarta, Kamis (4/1).
Dikatakan, IATCA secara resmi sudah melaporkan data kronologi menjelang hilangnya pesawat Adam Air, kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Data itu dipakai untuk penyelidikan penyebab hilangnya pesawat.
Kronologi
Berdasarkan informasi yang dihimpun, rute Surabaya-Manado harus diterbangi dengan ketinggian jelajah 35.000 kaki, dan masuk area Bali Control dengan pengendalian oleh menara ATC Bandara Hasanuddin, Makassar.
Awalnya, pascalepas landas dari Bandara Juanda, Surabaya, komunikasi pertama pilot dengan petugas ATC terjadi ketika pesawat melampaui ketinggian 23.000 kaki menuju 35.000 kaki. Data resmi PT Adam Sky Connection Airlines menyebutkan, pesawat berangkat dari Surabaya menuju Manado pukul 05.55 UTC (united time coordination/patokan waktu dalam dunia penerbangan, Red.) atau pukul 12.55 WIB.
Kristanto menjelaskan, saat pesawat tiba di ketinggian 35.000 kaki, penerbangan berjalan normal. “Tak lama berselang, pilot melaporkan ke ATC bahwa pesawat dihantam cross wind dari arah kiri dengan kecepatan 74 knot,” ujar Kristanto.
Sesaat kemudian, pilot melapor lagi. Kali ini mereka menyatakan kehilangan posisi. “Pilot menanyakan posisi pesawatnya kepada ATC,” kata dia.
ATC langsung memberi penjelasan posisi pesawat. Ketika itu, lanjut Kristanto, pilot memberi jawaban, “Ok, copy.”
Setelah itu, lanjut dia, semuanya berjalan wajar dan tidak ada komunikasi lagi. Tidak lama berselang, pada pukul 14.58 Wita, petugas ATC melihat kejanggalan. Sebab di layar radar ATC, target (pesawat Adam Air) berubah hanya berupa garis lintasan pesawat, tanpa ada titik sebagai penanda posisi pesawat di lintasan.
Dia menampik tudingan bahwa saat kejadian petugas ATC tidak waspada. Padahal, dia menegaskan, selain menghubungi KI 574 berkali-kali, petugas ATC sudah menanyakan kepada pilot pesawat Garuda Indonesia GA 603, yang ketika itu melintas dekat posisi Adam Air pada pukul 15.30 Wita, apakah menangkap posisi Adam Air di layar radar dalam kokpit mereka.
Permintaan yang sama juga disampaikan kepada pesawat Merpati Nusantara Airlines MZ 8070 yang melintas tak lama setelah Garuda. Untuk ketiga kalinya, permintaan serupa ditujukan kepada pilot pesawat Lion Air bernomor penerbangan JT 777 yang melintas di rute itu. Hasil pelacakan ketiga pesawat komersial itu tidak menemukan keberadaan Adam Air.
Pada saat bersamaan, petugas ATC mengumumkan secara resmi fase INCERFA ke sejumlah bandara soal hilangnya Adam Air KI 574 dari radar, seperti ke Bandara Gorontalo, Bandara Sam Ratulangi Manado, dan Bandara Juanda Surabaya.
Sesuai prosedur kedaruratan penerbangan, ada tiga fase menyangkut hilangnya pesawat. Fase INCERFA, diumumkan pertama kali ketika terjadi sebuah keadaan darurat. Fase itu bersifat sebuah tahap keraguan akan adanya sebuah kejadian.
Sekitar satu jam kemudian, menara ATC Makassar mengumumkan fase kedua, yakni ALERFA. Sebab sudah muncul ketidakpastian posisi pesawat Adam Air yang membawa 96 penumpang dan enam awak itu. Tepat pukul 17.23 Wita, petugas ATC kemudian mengumumkan fase terakhir, yakni DESTRESFA, yang menyatakan keyakinan bahwa pesawat sudah hilang.
Fakta lain, pilot sama sekali tidak menyerukan, “Mayday…mayday…mayday.” Seruan itu merupakan prosedur standar yang harus dilakukan pilot dalam keadaan darurat. Namun, Kristanto enggan berspekulasi mengapa pilot Adam Air ketika itu sama sekali tidak menyerukan “Mayday.” [Y-4]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar