marque

welcome to my blog, MY NAME IS YULI RAHMAWATI, THANK YOU FOR WELCOME. SEE YOU

Minggu, 23 Oktober 2011

Wah, Ada Jamur Di Es Krim Jamur

Asalkan kreatif, inovatif dan memperhatikan kelayakan makanan, apa pun bisa diolah menjadi eskri. Tak terkecuali jamur. Jamur pun bisa dijadikan bahan andalan untuk disulap menjadi es krim yang sedap dan bernilai ekonomis.

Asalkan kreatif, berinovasi, serta memperhatikan kelayakan tentang makanan, apa pun bisa diolah menjadi es krim. Tak terkecuali jamur. Di tangan ulet Arif Sudarsono (24), jamur pun bisa dijadikan bahan andalan untuk disulap menjadi es krim.
Begitu memasukkan serutan es krim ke dalam mulut serta menguyahnya. Maka lumeran es krim bercampur serat-serat kenyal akan dirasakan oleh lidah dan pengecap seseorang yang memakannya. Serat kenyal itulah yang berasal dari jamur. “Ada dua tipe jamur tiram, yakni florida dan eksteren. Namun kami menggunakan jamur eksteren untuk bahan pembuatan es krim ini,” kata Arif Sudarsono, pencetus es krim jamur ini, saat ditemui di Rumah Pintar Universitas Brawijaya (UB), Kamis (31/3).


Mahasiswa jurusan Gizi Fakultas Kedokteran UB ini, mengaku semula ia hanya iseng-iseng menggunakan jamur sebagai bahan membuat es krim. Sebelum menemukan resep yang sempurna seperti sekarang, ia sudah melakukan eksperimen sebanyak 8 kali. Perjuangan tanpa lelah dan putus asa akhirnya berbuah manis. “Sekitar tiga bulan yang lalu saya menemukan takaran yang pas. Sejak saat itu pula saya memberi merk pada produk saya, yakni Es Krim Jamur,” katanya. Namun, hingga saat ini ia belum mematenkan temuannya ini. “Kami sedang memproses hak patennya,” lanjutnya.
Selain berbahan dasar jamur, es krim ini juga berbahan dasar layaknya es krim lain, yakni susu murni, tepung es krim, dan emulsin fire. Emulsin fire ini, terang Arif, dimaksudkan sebagai pengganti telur guna menghaluskan tekstur adonan “Karena, jika memakai telur, kualitas rasa jamur akan kalah dengan telur,” katanya.
Tembus Hotel
Setiap bulan, rumah industri yang dikelola Arif dan tiga karyawannya ini mampu menghasilkan 3.000 hingga 5.000 cup. Serta memerlukan 6 hingga 8 kilogram jamur eksteren. Satu cup dengan berat bersih 70 gram, dijual Arif dengan harga Rp 2.500. Juga ada ukuran lebih kecil yang dipasarkan di banyak SD di Malang Raya dengan harga Rp 1.500.
“Kami memasarkannya masih sebatas di Malang Raya. Meskipun demikian, kami juga pernah mendapat pesanan dari Surabaya dan Bandung. Namun ini terkendala pengirimannya,” kata pria asal Kalimantan Timur ini.
Kendala ini, terang Arif, dikarenakan es krim jamur ini yang hanya bertahan selama 20 hari. Sebab, es krim karyanya tidak menggunakan bahan pengawet dan pemanis buatan. “Kalau dikirim ke luar kota, tentunya memakan waktu,” kata pria yang membikin blog di internet untuk memasarkan dagangannya ini.
Meski demikian, es krimnya sudah menembus hotel-hotel di Kota Malang. “Biasanya mereka memesan es krim saya untuk acara pernikahan. Biasalah, es krim saya dipakai sebagai pencuci mulut,” imbuhnya.
“Yang Penting, Saya Tidak Banting Setir”
Meskipun jebolan dari Fakultas Kedokteran UB, Arif Sudarsono tidak enggan menerjuni bisnis kuliner ini. Diakuinya, ketertarikannya dalam mengutak-atik resep makanan, khususnya es krim, justru dianggapnya sebagai jalan hidup untuk mencari mata pencaharian.
“Saya hanya ingin menjalankan amanat almamater saya tentang pengembangan di bidang kewirausahaan. Dan yang terpenting, saya tidak banting setir! Karena bisnis ini erat kaitannya dengan ilmu gizi yang saya pelajari di bangku kuliah,” katanya.
Arif mengungkapkan, dari bisnis ini, justru ia bisa membuka lapangan pekerjaan baru bagi orang lain. Meski saat ini ia baru memiliki 3 karyawan, suatu saat ia optimistis jika Es krim Jamur yang dikelolanya akan berkembang dan banyak menjaring tenaga kerja.
“Saat ini saya punya tiga karyawan. Satu untuk produksi dan dua sisanya untuk distribusi,” katanya.
Karena keuletan dan sumbangsihnya yang besar dalam bidang wirausaha, UB pun menggandengnya dengan memberikan sarana pemasaran di Rumah Pintar UB. Di sana, ia langsung menjajakan produknya untuk kalangan mahasiswa UB. “Saya sangat bersyukur karena UB memberikan fasilitas kepada kami,” katanya.
Karena latar belakangnya di ilmu gizi, sudah pasti dalam proses pembuatan es krim ia selalu mengedepankan standar gizi yang diperlukan oleh tubuh manusia. Misalnya, jamur dipilihnya karena jamur memiliki tektur yang kenyal dan memiliki kandungan serat yang bagus. “Setiap manusia butuh kandungan serat. Karena serat bisa berfungsi sebagai pelarut lemak dalam tubuh,” katanya.
Nah, dari ilmu yang didapatkannya selama di bangku kuliah, Arif pun menerapkannya dalam menjalankan bisnis kuliner ini. Segala pengetahuannya tentang pangan dan gizi dimanfaatkannya untuk mengolah makanan yang bergizi dan layak dikonsumsi.
“Semua produksi (pembuatan es krim) kami lakukan di sebuah rumah di Perum Tirtasari Blok A2/12A, Karangploso, Kota Malang. Dan proses produksinya kami lakukan secara higienis sesuai dengan standar gizi,” katanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar