marque

welcome to my blog, MY NAME IS YULI RAHMAWATI, THANK YOU FOR WELCOME. SEE YOU

Jumat, 21 Oktober 2011

krisis bahan pangan didunia


hai teman -teman ternyata dunia kita sedang krisis bahan pangan loh, saya akan memberitahu penyebabnya agar kalian tahu dan solusinya oke? mari kita sama-sama mencegah bencana kelaparan itu..
Pemanasan global terjadi karena naiknya rata-rata suhu permukaan bumi dan samudera dalam beberapa dekade terakhir ini dan proyeksi kelanjutannya. Naiknya suhu rata-rata tersebut sebagai akibat dari efek rumah kaca yang merupakan proses pemantulan energy panas ke atmosfir dalam bentuk sinar-sinar infra merah. Sinar-sinar inframerah ini diserap oleh gas-gas rumah kaca yang menyebabkan kenaikan suhu. Hal ini menyebabkan perubahan iklim yang terjadi dalam suatu kurun waktu baik secara alamiah atau sebagai akibat aktivitas manusia.

Perubahan iklim ekstrem membuat produksi pangan turun di tengah permintaan yang tetap, bahkan naik. Krisis pangan tak hanya terjadi di Indonesia, tapi merata hampir di seluruh dunia. Saat ini negara-negara produsen cenderung mengamankan produksinya untuk kebutuhan dalam negeri.

Degradasi lahan pertanian akibat perubahan iklim, tidak hanya berupa erosi tanah, namun sudah merambah ke bentuk-bentuk lain seperti banjir, longsor, pencemaran, dan pembakaran lahan, sudah sering terjadi dalam intensitas dan kualitas yang tinggi. Hal ini merupakan ancaman bagi kelangsungan sistem pertanian, dan tantangan bagi upaya konservasinya. Pertanyaannya adalah siapkah pihak-pihak yang bertanggug-jawab untuk menghadapi tantangan yang terus membesar tersebut? Memadaikah kemauan dan kemampuan kita untuk mengelola konservasi lahan pertanian di seluruh Indonesia?

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan tingginya harga bahan pangan sekarang ini. Dalam tiga pekan terakhir, harga beras naik 12,36 persen menjadi Rp 7.500 per kilogram. Minyak goreng curah naik 17,89 persen menjadi Rp 9.441 per kilogram, dan tepung terigu naik 0,36 persen menjadi Rp 7.606 per kg. Sementara itu, untuk pertama kalinya di Indonesia cabai rawit merah dijual Rp 100 ribu per kilogram.
Alternatif Solusi

Mengantisipasi perubahan iklim, pemerintah perlu turun tangan dalam pemantauan sekaligus mendampingi petani. Petani perlu diberikan petunjuk yang jelas. Dampak perubahan iklim ekstrem ini telah membuat petani sulit untuk bercocok tanam, hama juga menjadi banyak. Dengan adanya pemantauan dan pendampingan pada petani, maka dapat segera ditanggulangi dengan pemberian obat-obatan dan penyemprotan. Begitu pula jika terkena banjir, pemerintah perlu turun tangan langsung membantu petani mengolah kembali lahan mereka dengan menyiapkan pompa-pompa air di waktu kemarau.

Perbaikan sarana irigasi juga harus segera dilakukan, begitu pula dengan jalan dan alat-alat pasca panen harus segera direvitalisasi. Rekayasa varietas yang mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim juga harus ditingkatkan. Saat ini dibutuhkan varietas yang mampu bertahan dan berproduksi dalam kondisi kemarau, genangan tinggi dan salinitas tinggi. Benih-benih berkualitas yang tahan perubahan iklim tersebut perlu diberikan secara gratis dan penyuluh pertanian harus bergerak lebih efektif.
Krisis pangan juga terjadi akibat alih fungsi lahan pertanian menjadi perkebunan dan perumahan yang telah terakumulasi selama bertahun-tahun. Badan Ketahanan Pangan Nasional menyatakan konversi lahan pertanian di Indonesia pada 2009 luasnya mencapai 110 ribu hektare per tahun yang digunakan untuk kegiatan lain. Untuk itu Peraturan Pemerintah (PP) mengenai perlindungan lahan yang terkonsensi harus segera dikeluarkan secara menyeluruh.

Bila dilihat dari sisi konsumsi, saat ini penduduk Indonesia mencapai 237,6 juta jiwa, dengan pertumbuhan penduduk secara nasional 1,34 persen. Hal ini menyebabkan permintaan konsumsi pangan pun menjadi meningkat dan harus lebih tinggi dari angka tersebut. Tahun 2030 Indonesia memerlukan beras sebanyak 59 juta ton untuk memenuhi kebutuhan penduduk Indonesia yang berjumlah 425 juta jiwa. Lahan sawah yang tersedia sekarang hanya 11,6 juta hektare dan yang beririgasi 7,6 juta hektare. Untuk memenuhi kebutuhan itu, diperlukan lahan baru 11,8 juta hektare.

Kondisi ini menjadi salah satu tantangan pemerintah dalam menyiapkan kebutuhan pangan. Krisis pangan terjadi akibat kebijakan pemerintah mengasingkan makanan pokok lokal masyarakat selain beras, yaitu jagung, sagu, talas, sukun, ubi jalar, dan singkong. Krisis pangan hanya dinilai dari produksi beras saja. Sedangkan masyarakat yang mengonsumsi makanan pokok selain beras, dikategorikan sebagai masyarakat miskin. Sungguh ironis, padahal makanan pokok lokal tersebut sangat cocok dan dapat bertahan dalam kondisi ekstrim sekarang ini. Sebaiknya pemerintah peduli dan mengembalikan keanekaragaman makanan pokok lokal.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar